Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Mengenal dan Memahami Kerangka Pembelajaran Mendalam: Makna Lingkaran PM, Dimensi Profil Lulusan, dan contohny

Kerangka Pembelajaran Mendalam
KERANGKA PEMBELAJARAN MENDALAM


Penulis : Kurniawan
Pengawas Sekolah LU

A. Pembelajaran Mendalam

Pembelajaran Mendalam menjadi salah satu pendekatan yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran di satuan pendidikan. Pendekatan ini tidak hanya menekankan penguasaan materi, tetapi juga mendorong peserta didik memahami pengetahuan, menerapkannya dalam berbagai konteks, serta merefleksikan pengalaman belajarnya.

Pembelajaran Mendalam merupakan pendekatan yang memuliakan, dengan menekankan penciptaan suasana dan proses pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu.

Dengan demikian, Pembelajaran Mendalam tidak cukup dipahami sebagai penggunaan metode mengajar yang bervariasi. Guru perlu memahami bagaimana tujuan pendidikan, pengalaman belajar peserta didik, prinsip pembelajaran, dan komponen pendukungnya saling berkaitan.

B. Memahami Makna Kerangka Kerja Pembelajaran Mendalam

Apa makna setiap lingkaran di dalamnya? Dan bagaimana hubungan antara dimensi profil lulusan, prinsip pembelajaran, pengalaman belajar, serta komponen pendukung pembelajaran?

Kerangka PM
Kerangka pembeajaran mendalam


Kerangka Kerja Pembelajaran Mendalam terdiri atas empat komponen utama:
  1. Dimensi profil lulusan.
  2. Prinsip pembelajaran.
  3. Pengalaman belajar.
  4. Kerangka pembelajaran.

Keempat komponen tersebut saling berhubungan dalam mendukung tercapainya tujuan pendidikan. Dimensi profil lulusan memberikan arah kompetensi yang hendak dikembangkan.

Prinsip pembelajaran menjadi landasan dalam menciptakan pengalaman belajar, sedangkan kerangka pembelajaran menyediakan berbagai komponen pendukung untuk melaksanakan proses tersebut.

C. Membaca Kerangka Gambar:

1. Pembelajaran Mendalam

Pada bagian dalam gambar terdapat lingkaran pertama tulisan Pembelajaran Mendalam maknanya, Satuan Pendidikan melaksankan pembejaran dengan model pendekatan pembelajaran mendalam yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran di satuan pendidikan.

Pendekatan ini tidak hanya menekankan penguasaan materi, tetapi juga mendorong peserta didik memahami pengetahuan, menerapkannya dalam berbagai konteks, serta merefleksikan pengalaman belajarnya.

2. Delapan dimensi profil lulusan

Lingkaran berikutya adalah 8 dimensi profil lulusan kedelapan dimensi tersebut merupakan kompetensi minimal dari standar kometensi lulusan pada semua jenjang Pendidikan, yang diharapkan dimiliki peserta didik setelah menyelesaikan proses pembelajaran dan pendidikan. Berikut delapan dimensi profil lulusan tersebut.

a. Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Dimensi ini berkaitan dengan keyakinan, penghayatan nilai spiritual, akhlak mulia, serta tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Pengembangannya tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan keagamaan, tetapi juga dengan perilaku yang mencerminkan nilai moral dan hubungan yang baik dengan Tuhan, sesama manusia, serta lingkungan.

b. Kewargaan

Dimensi kewargaan berkaitan dengan rasa cinta tanah air, kepatuhan terhadap aturan dan norma sosial, kepedulian, serta tanggung jawab terhadap kehidupan bersama. Peserta didik diharapkan mampu menghargai keberagaman dan berkontribusi terhadap kebaikan bersama sebagai warga negara maupun warga dunia.

c. Penalaran Kritis

Dimensi ini menunjukkan kemampuan peserta didik untuk berpikir logis, analitis, dan reflektif dalam memahami serta mengevaluasi informasi.

Peserta didik perlu memperoleh kesempatan untuk menganalisis masalah, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, mengevaluasi argumen, dan menyusun kesimpulan berdasarkan bukti yang relevan.

d. Kreativitas

Kreativitas berkaitan dengan kemampuan menghasilkan gagasan, mengembangkan alternatif, serta menciptakan solusi yang orisinal dan bermanfaat.

Dalam pembelajaran, guru dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengeksplorasi gagasan, mencoba berbagai kemungkinan, dan menghasilkan karya sesuai tujuan pembelajaran.

e. Kolaborasi

Kolaborasi merupakan kemampuan bekerja sama secara efektif untuk mencapai tujuan bersama.

Dimensi ini mencakup pembagian peran dan tanggung jawab, penghargaan terhadap kontribusi orang lain, serta kemampuan menyelesaikan masalah bersama dengan tetap menghormati perbedaan.

f. Kemandirian

Kemandirian berkaitan dengan kemampuan peserta didik untuk mengelola proses belajarnya dan menjalankan tanggung jawab secara mandiri.

Dalam proses pembelajaran, peserta didik perlu memperoleh kesempatan untuk menetapkan tujuan, mengelola kegiatan, mengambil keputusan yang sesuai, serta mengevaluasi perkembangan dirinya.

g. Kesehatan

Dimensi kesehatan berkaitan dengan upaya menjaga kesehatan fisik dan mental serta membangun kebiasaan hidup sehat.

h. Komunikasi

Komunikasi merupakan kemampuan menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran secara jelas serta memahami pesan yang disampaikan orang lain.

Peserta didik perlu memperoleh kesempatan untuk berdiskusi, menyampaikan pendapat, mendengarkan, bertanya, dan mempresentasikan hasil belajar sesuai konteks.

3. Lingkaran Pengalaman Belajar: Memahami, Mengaplikasi, dan Merefleksi

Dalam gambar Kerangka Pembelajaran Mendalam, pengalaman belajar ditunjukkan melalui tiga istilah, yaitu memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.

Ketiganya menggambarkan pengalaman yang perlu diberikan kepada peserta didik agar pengetahuan tidak berhenti pada kegiatan mengingat informasi.

a. Memahami

Memahami merupakan pengalaman ketika peserta didik membangun pemahaman terhadap konsep, fakta, prinsip, atau pengetahuan yang dipelajari.

Peserta didik tidak hanya menghafal materi, tetapi juga menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki dan memahami makna dari hal yang dipelajari.

Contohnya, dalam pembelajaran tentang pencemaran lingkungan, peserta didik memahami pengertian pencemaran, penyebab, dampak, dan hubungan antarfaktor yang memengaruhinya.

b. Mengaplikasi

Mengaplikasi merupakan pengalaman ketika peserta didik menggunakan pengetahuan yang telah dipahami dalam situasi atau konteks yang relevan.

Contohnya, setelah mempelajari pencemaran lingkungan, peserta didik mengamati kondisi lingkungan sekolah, mengidentifikasi masalah, dan menggunakan pengetahuannya untuk menyusun alternatif solusi.

Pada pengalaman ini, peserta didik tidak hanya mengetahui suatu konsep, tetapi juga menggunakan konsep tersebut untuk menghadapi persoalan.

c. Merefleksi

Merefleksi merupakan pengalaman ketika peserta didik meninjau kembali proses dan hasil belajarnya, memahami perkembangan yang telah dicapai, serta mengenali bagian yang perlu diperbaiki.

Contohnya, peserta didik menilai apakah solusi yang disusun dapat dilaksanakan, menjelaskan alasan pemilihan solusi, dan mengidentifikasi hal yang perlu ditingkatkan.

Ketiga pengalaman belajar tersebut saling berkaitan. Dalam pelaksanaannya, peserta didik memperdalam pemahaman sebelum mencoba menerapkan pengetahuan atau melakukan refleksi.

Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penyelesaian materi, tetapi juga pada bagaimana peserta didik membangun, menggunakan, dan meninjau kembali pemahamannya.

4. Lingkaran Prinsip Pembelajaran: Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan


Gambar Kerangka Pembelajaran Mendalam juga menunjukkan tiga prinsip pembelajaran, yaitu berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Ketiga prinsip tersebut menjadi landasan dalam merancang pengalaman belajar peserta didik.

a. Berkesadaran

Pembelajaran berkesadaran mendorong peserta didik memahami tujuan belajarnya, menyadari proses yang dijalani, serta terlibat secara aktif dalam pembelajaran.

Guru membantu peserta didik memahami apa yang akan dipelajari, mengapa pembelajaran tersebut penting, dan bagaimana perkembangan belajarnya dapat diketahui.

Dengan demikian, peserta didik tidak hanya mengikuti kegiatan, tetapi juga memahami arah dan tujuan belajarnya.

b. Bermakna

Pembelajaran bermakna menghubungkan pengetahuan yang dipelajari dengan pengalaman, kebutuhan, dan kehidupan nyata peserta didik.

Misalnya, materi tentang pengukuran dihubungkan dengan kegiatan mengukur luas ruang kelas. Materi tentang lingkungan dapat dikaitkan dengan kondisi kebersihan sekolah atau pengelolaan sampah di sekitar tempat tinggal.

Hubungan tersebut membantu peserta didik memahami manfaat pengetahuan dan menggunakannya dalam konteks yang relevan.

c. Menggembirakan

Pembelajaran menggembirakan menciptakan pengalaman belajar yang positif, menantang, dan mendorong peserta didik untuk terlibat.

Menggembirakan bukan berarti setiap pembelajaran harus berbentuk permainan. Hal yang lebih penting adalah terciptanya suasana yang mendukung rasa ingin tahu, keberanian mencoba, interaksi yang baik, serta keterlibatan peserta didik dalam belajar.

Ketiga prinsip tersebut perlu dipertimbangkan secara terpadu. Guru dapat merancang kegiatan yang memiliki tujuan jelas, relevan dengan kehidupan peserta didik, sekaligus memberikan pengalaman belajar yang positif.

5. Lingkaran Terluar: Kerangka Pembelajaran

Bagian terluar gambar memuat empat komponen yang mendukung pelaksanaan Pembelajaran Mendalam, yaitu praktik pedagogis, lingkungan pembelajaran, kemitraan pembelajaran, dan pemanfaatan digital.

Keempat komponen ini membantu menciptakan kondisi yang mendukung pengalaman belajar peserta didik.

1. Praktik Pedagogis

Praktik pedagogis berkaitan dengan cara guru merancang dan melaksanakan proses pembelajaran.

Guru menentukan pendekatan, strategi, metode, dan kegiatan berdasarkan tujuan pembelajaran, karakteristik materi, serta kebutuhan peserta didik.

Sebagai contoh, guru dapat menggunakan diskusi, eksperimen, penyelidikan, pembelajaran berbasis masalah, atau pendekatan lain yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Tidak ada satu metode yang harus digunakan untuk semua materi. Pemilihan praktik pedagogis perlu mempertimbangkan kesesuaiannya dengan tujuan dan konteks pembelajaran.

2. Lingkungan Pembelajaran


Lingkungan pembelajaran mencakup kondisi fisik, sosial, dan suasana yang mendukung proses belajar.

Lingkungan yang baik memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya, berdiskusi, mencoba, mengemukakan pendapat, dan belajar dari kesalahan.

Lingkungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan fasilitas ruang kelas, tetapi juga dengan hubungan antara guru dan peserta didik serta interaksi antarpeserta didik.

3. Kemitraan Pembelajaran

Kemitraan pembelajaran menekankan pentingnya kerja sama dengan pihak-pihak yang dapat mendukung proses belajar.

Kemitraan dapat melibatkan guru, peserta didik, orang tua, warga sekolah, masyarakat, dunia usaha, dunia industri, atau pihak lain sesuai kebutuhan pembelajaran.

Misalnya, ketika peserta didik mempelajari pengelolaan sampah, sekolah dapat melibatkan petugas kebersihan atau pihak terkait untuk memberikan pengalaman dan informasi yang relevan.

Kemitraan tidak harus dilakukan dalam setiap pembelajaran. Pelaksanaannya disesuaikan dengan tujuan dan kebutuhan.

4. Pemanfaatan Digital

Pemanfaatan digital berkaitan dengan penggunaan teknologi untuk mendukung proses pembelajaran.

Teknologi dapat digunakan untuk mencari informasi, mengakses sumber belajar, melakukan simulasi, berkolaborasi, mendokumentasikan kegiatan, atau menyajikan hasil belajar.

Namun, teknologi bukan tujuan utama pembelajaran. Teknologi digunakan apabila memberikan manfaat bagi proses dan hasil belajar, sesuai dengan kebutuhan serta kondisi satuan pendidikan.

Keempat komponen tersebut saling mendukung. Guru dapat mengombinasikannya sesuai konteks pembelajaran tanpa harus memaksakan semua komponen muncul dengan porsi yang sama dalam setiap kegiatan.

C. Apakah Kerangka Ini Harus Diterapkan Secara Kaku?


Kerangka Pembelajaran Mendalam perlu dipahami sebagai acuan untuk merancang pembelajaran, bukan sekadar urutan administratif yang harus disalin ke setiap dokumen.

Tidak semua pembelajaran harus menggunakan metode yang sama. Tidak semua kegiatan harus memanfaatkan teknologi digital atau melibatkan pihak luar sekolah. Demikian pula, satu kegiatan tidak harus mengembangkan seluruh dimensi profil lulusan sekaligus.(sesuikan dengan tujuan)

Guru perlu mempertimbangkan tujuan pembelajaran, karakteristik materi, kebutuhan peserta didik, dan kondisi satuan pendidikan ketika menentukan pendekatan serta kegiatan yang sesuai.

Misalnya, dalam satu pembelajaran, guru dapat lebih menekankan penalaran kritis dan komunikasi. Pada pembelajaran lain, kolaborasi, kreativitas, atau kesehatan mungkin menjadi fokus yang lebih relevan.

Yang terpenting adalah adanya kesesuaian antara tujuan, pengalaman belajar, prinsip pembelajaran, dan kegiatan yang dilaksanakan.

Dengan demikian, Kerangka Pembelajaran Mendalam dapat menjadi pedoman berpikir bagi guru untuk merancang pembelajaran yang terarah, relevan, dan bermakna.

Untuk lebih memahami alur Rencana Pembelajaran Mendalam penting untuk dibaca  artikel di bawah ini :

Cara Menyusun Rencana Pembelajaran Mendalam Yang Efektif ( Berserta Contoh RPP PM)

Namun ada 5 langkah yang lebih urgen lagi sebelum Menyusun RPP, RPP tidak akan tersusun sesuai dengan kebutuhan siswa jika tidak di awali dengan 5 tahap ini, baca artikelnya di bawah ini

Analisis Kalender Pendidikan 2026/2027: Cara Menghitung HES, HEB, dan Minggu Efektif + Contoh Siap Pakai.

Memahami kerangka Pembelajaran Mendalam ini merupakan langkah awal sebelum menerjemahkannya ke dalam perencanaan pembelajaran dan pengembangan mutu di sekolah.

Setelah pemahaman tersebut terbentuk, sekolah dapat melanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu memetakan delapan dimensi profil lulusan menjadi capaian yang diharapkan dan indikator ketercapaian yang sesuai dengan kebutuhan serta karakteristik satuan pendidikan.

Baca Program sekolah untuk mencapai standar kompetensi lulusan pada link di bwah ini

Cara Menyusun Buku Standar SPMI di Sekolah: Panduan Praktis Berdasarkan Permendikdasmen Nomor 21 Tahun 2026


Daftar Pustaka

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. (2025). Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam: Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan.