Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Contoh Pujian Guru kepada Murid: Membangun Pola Pikir Bertumbuh melalui Pujian Proses

Contoh Pujian Guru kepada Murid: Membangun Pola Pikir Bertumbuh melalui Pujian Proses
 Pola Pikir Bertumbuh 


Penulis : Kurniawan
Pengawas LU


A. Membangun Pola Pikir Bertumbuh

Pernahkah kita mengatakan kepada murid, “Wah, kamu memang pintar!” ketika ia berhasil menjawab soal? Atau, “Kamu hebat, ternyata kamu bisa menyelesaikan soal yang sulit setelah mencoba beberapa kali”?

Kedua kalimat tersebut sama-sama terdengar positif. Namun, ternyata ada perbedaan penting dalam pesan yang diterima murid.

Kalimat pertama lebih menekankan kemampuan yang dimiliki murid, sedangkan kalimat kedua menyoroti usaha dan proses yang dilaluinya.

Dalam pembelajaran sehari-hari, cara kita memberikan pujian ternyata dapat memengaruhi cara murid memandang kemampuan dirinya, menghadapi kesulitan, dan menyikapi kegagalan.

Karena itu, sebagai guru, kita perlu belajar memberikan pujian yang tidak hanya membuat murid merasa senang, tetapi juga mendorongnya terus belajar dan berkembang.

1. Mengapa Cara Guru Memberikan Pujian Itu Penting?

murid yang mendapat pujian pribadi karena kecerdasannya cenderung lebih memilih tugas yang mudah agar tetap terlihat pintar.

Sebaliknya, murid yang dipuji karena proses usaha yang dilakukannya lebih tertarik mencoba tugas yang menantang dan memberi kesempatan untuk belajar.

Apa artinya bagi kita sebagai guru?

Murid yang terbiasa mendengar pujian pribadi seperti “Kamu memang pintar” bisa saja merasa bangga. Namun, ketika menghadapi soal yang sulit dan tidak mampu menjawabnya, ia mungkin mulai berpikir bahwa dirinya tidak sepintar yang selama ini dikatakan orang lain.
Pujian Pribadi
Pujian Pribadi


Sebaliknya, ketika guru memberikan pujian proses atas menghargai usaha, strategi, dan kemauan murid untuk mencoba kembali, akan menubuhkan mindset berpikir dalam diri murid bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui proses belajar.

Inilah yang berkaitan dengan pola pikir bertumbuh (growth mindset), yaitu pandangan bahwa kemampuan dapat terus berkembang melalui pembelajaran, latihan, strategi yang tepat, dan bantuan yang sesuai.

2. Mengenal Pujian Pribadi dan Pujian Proses

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bedakan keduanya.

Pujian pribadi adalah pujian yang menekankan sifat atau kemampuan seseorang, misalnya pintar, berbakat, atau hebat.

Sementara itu, pujian proses adalah pujian yang menyoroti apa yang dilakukan murid, seperti usaha, strategi, ketekunan, keberanian mencoba, dan perkembangan yang ditunjukkannya.

Perhatikan perbandingan contoh pujian Pribadi dan Proses.

Pujian pribadi

Pujian proses

“Kamu memang pintar Matematika.”

“Kamu sudah mencoba beberapa cara sampai menemukan jawaban yang tepat.”

“Kamu anak yang cerdas.”

“Kamu menggunakan cara yang tepat untuk menyelesaikan soal ini.”

“Kamu memang berbakat menulis.”

“Tulisanmu semakin baik karena kamu memperbaiki susunan kalimat dan memilih kata dengan cermat.”

“Kamu memang anak yang rajin.”

“Ibu melihat kamu tetap berlatih dan menyelesaikan tugas meskipun tadi mengalami kesulitan.”

“Kamu hebat sekali menggambar.”

“Gambarmu semakin rapi. Kamu sudah berlatih memperhatikan bentuk dan perpaduan warna.”

“Kamu anak yang baik.”

“Kamu mau membantu teman yang kesulitan tanpa diminta. Sikapmu membantu kelompok bekerja lebih baik.”

Dari tabel tersebut, kita bisa melihat bahwa pujian proses memberikan gambaran yang lebih jelas kepada murid tentang hal yang sudah dilakukannya dengan baik.

Murid tidak hanya merasa dihargai, tetapi juga mengetahui perilaku atau strategi yang dapat diulangi dan dikembangkan.

3. Contoh Pujian Proses dalam Kegiatan Sehari-hari di Sekolah

Pujian proses tidak harus diberikan saat murid memperoleh nilai tinggi atau memenangkan lomba. Justru, banyak kesempatan muncul dalam kegiatan belajar sehari-hari.

Berikut beberapa contohnya.

Situasi di sekolah

Hindari hanya mengatakan

Coba katakan

Murid salah menjawab soal Matematika.

“Kamu kurang pintar.”

“Tidak apa-apa, kita periksa lagi langkah pengerjaannya. Bagian mana yang perlu diperbaiki?”

Murid akhirnya bisa menjawab soal sulit.

“Wah, kamu memang pintar!”

“Kamu tadi mencoba kembali dan memeriksa jawabanmu. Usahamu membantu kamu menemukan cara yang tepat.”

Murid berani maju ke depan kelas.

“Kamu memang pemberani.”

“Terima kasih sudah berani mencoba presentasi di depan teman-teman. Semakin sering berlatih, kamu bisa semakin percaya diri.”

Murid memperoleh nilai rendah.

“Kamu malas belajar, ya?”

“Mari kita lihat bagian yang belum kamu kuasai. Kita tentukan cara belajar yang bisa kamu coba berikutnya.”

Murid memperbaiki tugas setelah mendapat masukan.

“Nah, sekarang kamu pintar.”

“Kamu sudah menggunakan masukan sebelumnya untuk memperbaiki jawabanmu. Hasilnya sekarang lebih jelas.”

Murid bekerja dalam kelompok.

“Kelompok kalian memang paling hebat.”

“Kalian sudah berbagi tugas, mendengarkan pendapat teman, dan menyelesaikan pekerjaan bersama.”

Murid membantu teman yang kesulitan.

“Kamu memang anak baik.”

“Kamu membantu teman memahami langkah pengerjaan tanpa langsung memberikan jawabannya. Itu membantu temanmu belajar.”

Murid belum berhasil menyelesaikan proyek.

“Kalian gagal.”

“Kalian sudah menemukan bagian yang belum berhasil. Sekarang mari kita evaluasi dan tentukan apa yang perlu diubah.”


Perhatikan bahwa pujian proses bukan berarti kita mengabaikan hasil. Hasil tetap penting, tetapi kita juga membantu murid memahami bagaimana hasil tersebut dicapai dan apa yang perlu dilakukan selanjutnya.

Baca juga :

4. Bagaimana Jika Murid Sudah Berusaha, tetapi Hasilnya Belum Baik?

Ini situasi yang sering kita temui di kelas.

Ada murid yang sudah belajar, tetapi nilainya belum memuaskan. Ada yang sudah mencoba menjawab, tetapi masih salah. Ada pula yang berulang kali berlatih, tetapi belum menunjukkan perkembangan yang diharapkan.

Dalam situasi seperti ini, guru tidak cukup hanya mengatakan, “Yang penting sudah berusaha.”

Usaha perlu dihargai, tetapi murid juga membutuhkan arahan agar dapat menemukan strategi yang lebih efektif.

Misalnya, ketika murid memperoleh nilai rendah, guru bisa mengatakan:

“Bapak melihat kamu sudah berusaha mengerjakan semua soal. Namun, masih ada beberapa bagian yang belum kamu pahami. Mari kita pelajari kembali, lalu coba cara latihan yang berbeda.”

Kalimat tersebut mengandung tiga hal: menghargai usaha, menunjukkan bagian yang perlu diperbaiki, dan memberikan arah untuk belajar berikutnya.

Jadi, pujian proses bukan sekadar memuji usaha, melainkan membantu murid memahami prosesnya dan berkembang melalui umpan balik yang tepat.

5. Apa Hubungannya dengan Pembelajaran Mendalam?

Pembelajaran Mendalam mendorong murid menjalani pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Dalam pendekatan ini, cara guru memberikan pujian dapat mendukung proses belajar murid.

Pertama, pada prinsip berkesadaran, guru membantu murid mengenali apa yang sudah dikuasai dan apa yang masih perlu diperbaiki.

Kedua, pada prinsip bermakna, guru memberikan umpan balik yang membantu murid memahami manfaat strategi yang digunakannya.

Ketiga, pada prinsip menggembirakan, guru membangun suasana yang membuat murid berani mencoba, bertanya, melakukan kesalahan, dan belajar kembali tanpa takut direndahkan.

Pujian proses juga dapat mendukung tiga pengalaman belajar, yaitu memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Murid tidak hanya memperoleh jawaban, tetapi juga belajar mengenali cara yang digunakan, menerapkannya, serta menilai apa yang perlu diperbaiki.

Contohnya, setelah menyelesaikan tugas kelompok, guru dapat mengajak murid merefleksikan tiga pertanyaan sederhana:
Cara apa yang paling membantu kelompok kita menyelesaikan tugas?
Kesulitan apa yang kita hadapi, dan bagaimana kita mengatasinya?
Apa yang akan kita lakukan dengan lebih baik pada tugas berikutnya?

Dengan demikian, pujian tidak berhenti sebagai kata-kata manis, tetapi menjadi bagian dari proses belajar.

6. Mari Mulai dari Ucapan Kita di Kelas

Bapak/Ibu guru, kita tidak harus langsung mengubah semua kebiasaan dalam sehari. Kita bisa mulai dengan langkah sederhana: ketika hendak memuji murid, berhentilah sejenak dan tanyakan kepada diri sendiri, “Apakah pujian ini hanya menyebut siapa dirinya, atau juga membantu dia memahami apa yang sudah dilakukannya dengan baik?”

Tidak salah menghargai kemampuan murid. Namun, jangan sampai pujian membuatnya merasa harus selalu benar, selalu mendapat nilai tinggi, atau selalu terlihat pintar di hadapan orang lain.

Hargailah keberaniannya mencoba, ketekunannya memperbaiki pekerjaan, kemauannya meminta bantuan, kemampuannya menggunakan strategi baru, dan kesediaannya belajar dari kesalahan.

Sebab, tugas guru bukan hanya membuat murid merasa dirinya hebat hari ini, tetapi juga membantunya percaya bahwa ia masih bisa berkembang esok hari.

Perubahan kecil dalam ucapan kita dapat menjadi bagian dari upaya membangun pola pikir bertumbuh dan menghadirkan Pembelajaran Mendalam yang lebih bermakna bagi murid.

Daftar Pustaka

Bronson, P. (2007, 17 Februari). How Not to Talk to Your Kids: The Inverse Power of Praise. New York Magazine.

Dweck, C. S. (2007). The Perils and Promises of Praise. Educational Leadership, 65(2), 34–39.

American Psychological Association. (2015). Using Praise to Enhance Student Resilience and Learning Outcomes.